Rabu, 31 Januari 2024

Senandung Senja di Ujung Rendezvous


Yang sabar ya Fit ?” suara dari seberang menutup telponnya.

Udah dari tadi hatiku nervous banget. Sore ini Rio dari Jakarta datang untuk  menemuiku. Sambil menunggu waktu ku baca SMS yang pernah Rio kirim untukku. Semua tertulis rapi di buku harianku. 
Senin 27 Desember 2004 (20:05)
Sepenggal hati tuk mimpi temaniku dalam senyum yang menunggu, mereka-reka bahagia yang tak disapa nyata, gaungan suara itu mengusikku, kadang ku cari dalam kotak benakku tapi wangi sekuntum rindu mengusikku.
Senin 27 Desember 2004 (20:27)
Aku adalah gembel yang kesepian, berharap langit menjilati nasibku. Aku adalah gembel yang kesunyian , menanti pelangi di malam hari. Aku adalah gembel yang terluka, memeluk, menempuh, mendekap khayal.
Senin 27 Desember 2004 (20:38)
Haruskah aku memelas pada langit ? Atau harus ku keruk-keruk perut bumi? Agar aku dapat suatu jawaban, tentang bulan yang menangis dan tentang aku yang rindu. Aku tak yakin asa yang terpendam dalamku, entah….
“ …….ku tanya malam dapatkah kau lihatnya perbedaan…..” ku sahut hp ku di meja yang ku isi ringstone nya Peterpan.
“ Udah sampe mana ?” tanyaku pada Rio.
“ Aku udah di terminal Purworejo. Cepetan ke sini, Aku nggak ngerti rumah kamu n aku gak tau tempat ini. Kalau datang sendiri ya?” imbuhnya lagi.
“ Iya aku akan datang ke situ, yang sabar ya Say..?” jawabku menggoda.
                                                                   *****
Diperjalan  berkali-kali Rio menelponku.
“ Iya bentar lagi sudah sampai !” jawabku di antara telponnya.
Di terminal aku celingukan mencarinya. Ku ambil foto Rio dari dalam tasku. Ku amati setiap cowok yang ada di situ.
                                                                   *****
Rio adalah kekasihku dan baru kali ini aku akan bertemu dengannya. Sesuatu yang ganjil kan? Begitulah kenyataannya. Aku dikenalkan Miko (sahabatku). Sejauh ini hubunganku dengan Rio hanya lewat telpon. Hampir setiap hari Rio SMS dan telpon aku. Sekedar menanyakan keadaanku atau curhat. Hingga pada suatu ketika Rio bilang suka padaku. Semula ku tolak karena aku masih trauma dengan kisah cintaku yang lalu. Akan tetapi aku terima juga cintanya. Ya…karena latar belakang yang sama. Rio menderita karena perempuan dan aku karena laki-laki. Genap tiga bulan jadian Rio minta ketemu. O, iya… dia lahir di Salatiga dan besar di Tanjung Balai Karimun. Sekarang di Jakarta.
                                                                   *****
“ Sreet…..” mataku tertuju pada sebuah wartel. Di sana ada yang dari tadi mengamatiku. Kudekati dia.
“ Dari tadi aku udah ngawasin kamu. Sejak kamu turun dari angkot.”
“Lantas, kenapa kamu diem aja ?” tanyaku dingin.
“ Ya…biar kamu bingung dulu .” dia tersenyum hambar.
Ku tarik tangannya keluar dari wartel itu. Seperti janjinya Rio mengantarku berbelanja. Serta memilihkan beberapa keperluan yang ku beli.
Akh, Rio emang baik bahkan sangat baik. Orangnya sangat perhatian dan menyayangiku. Lama aku memutari kota ini. Mendung yang sejak dari tadi hendak jatuh, tumpah juga meski tak terlampau deras.
Oh my God ! Pekikku dalam hati. Apakah ini jawaban dari sebuah senja yang kita tunggu-tunggu? Ternyata Tuhan telah memberikan jawabanNya terlebih dahulu. Tapi apakah Rio mengerti akan makna hujan di senja ini?? Karena di saat ini bukan musim penghujan!!!
“ Dingin banget Fit .” pekiknya.
Iya aku tau. Ya udah kita cari makan dulu yuk.” Ajakku akhirnya.
                                                          *****
Kami berjalan menuju Resto Bakso tempat biasa aku makan. Di tempat ini Rio bercerita banyak padaku.
“ Deg.”
Hatiku tiba-tiba saja bergetar hebat manakala dia menanyakan cintanya padaku. Ada rassa sakit yang menyerangku tiba-tiba. Tapi tidak !! Aku harus kuat. 
Setelah Triana (kekasihnya dulu) meninggal dalam sebuah kecelakaan, dia harus dikhianati kekasih barunya. Yang lebih menyakitkan lagi kekasihnya itu memilih selingkuh dengan sepupunya. Lalu kini….haruskah aku campakkan dia seperti sampah? Tegakah aku….?!
“Fit apa yang kau harap dariku ? Mampukah kau bertahan saatku lumpuh ?” katanya membuyarkan lamunanku.
“ Maaf bila aku harus bicarakan ini, bukan aku ragu tapi aku takut setelah kamu tau tentangku kamu…” katanya menggantung.
“ Nggak apa-apa, aku nggak berharap apa-apa. Aku ingin kamu jadi kamu dengan segalanya kamu.” Jawabku parau. 
Rio apakah kamu tau? Sebuah perbedaanlah yang memisahkan kita. Miko telah cerita banyak tentang keadaannya. Dan aku tak mungkin melanjutkan hubungan ini. Aku hanya tak ingin menggantung hatimu lebih lama. Meski ku yakin kamu akan sangat terluka dengan keputusanku. Ya itu pasti….
“ Makasih Fit untuk kata indahmu itu, semoga dalam sisa waktuku yang sedikit ini aku bisa memberikan yang terbaik tuk semua dan untuk kamu adalah yang terindah, semoga aku tak berharap kosong.”
“Ehm….Rio tapi aku…” buru-buru ku lempar pandang ke arah yang lain.
Aku tak kuasa ditatap begitu.
                                                          *****
Lama kami saling diam, sibuk dengan ilusi masing-masing.
“ Eh ko diem, ngelamunin siapa?” Tanya Rio mengagetkanku.
“ Ah….eh…enggak ko.” Jawabku tersipu.
“ udah dimakan dulu baksonya ntar keburu dingin.
Rio menyodorkan bakso yang sudah dari tadi dipesan dan segelas es jeruk.
Aku makan tanpa sedikitpun menikmatinya. Setelah dibayar kami pun berlalu. Aku antar Rio ke tempat angkot yang menuju terminal bus. Di tempat ini kita habiskan waktu yang sedikit itu. Waktu yang tak dapat kita ulang. Atau ini adalah pertemuan yang pertama sekaligus pertemuan yang terakhir. Kata-Kata yang ku susun dari rumah hanya tersekat di kerongkongan, tanpa sanggup ku ucapkan.
                                                          *****
“ Fit sekarang aku mo nagih satu janji kamu ! Kamu akan menyanyikan lagu Jera-nya Agnes untukku!”
“ Haah… Ah siapa juga yang janji begitu.” kataku mengelak.
Aku tak menyangka Rio masih inget janji itu, sementara aku sudah melupakannya.
“ Apa aku meski tunjukin SMS dari kamu dulu? Karena semua SMS mu masih ku simpan.”
Ah Rio rasa-rasanya ku ingin teriak dan ku ingkari takdir ini. Tuhan bantulah aku mengatakan sesuatu untuk Rio. Sejenak kita terdiam. Waktu pun terus merangkak dan menitpun terus melaju. Begitu juga hujan ini seakan terus mengikutinya. Rio, aku berharap kamu tak menjadi seperti mendung dan gerimis senja ini.
“ Rio, sebelumnya sorry ya…sebenarnya ku tulis SMS untuk kamu tuh iseng aja. Jadi jangan kamu anggap serius…”
“ Lantas apa arti dari kata cinta dan rindumu. Apa juga sebagai penghias kata?” katanya seperti untuk dirinya sendiri.
“ Ya begitulah, sekedar dalam SMS dan telpon, selebihnya kita bukan apa-apa. Jadi kamu gak boleh cemburu bila ada cowok lain yang jalan ma aku..”
“Seandainya itu benar dari hatimu, tak mengapa. Tapi kami meski janji ke aku, kamu tak akan maenin orang lagi ya ?” ucapnya terputus-putus.
Aku tak menyahut, hanya diam mematung.
“ Fit sungguh aku tak percaya kalo ini kamu. Tapi satu permintaanku yang terakhir, kamu mau mengabulkannya kan?”
“ Aku ingin kamu mengantarku ke terminal. “ imbuhnya memelas.
Aku membalasnya dengan gelengan kepala.
“ Maaf Rio, aku meski pulang ini sudah sore. Aku yakin kamu berani sendiri..”
Ku jabat tangannya. Dia membalasnya berat sekali, tanpa melihat sedikitpun padaku. Aku pun segera berlalu. Ku lihat dia menangis. Dan ada bagian hatiku yang lara kala itu.
Selang beberapa langkahku, Rio memanggil. Ku berhenti sejenak, ku toleh dia. Rio menatapku hampa, terluka dan tak percaya. Ku lambaikan tanganku, namun dia tak membalas.
                                                          *****
Sesampainya di rumah adikku menyerbuku dengan  bermacam pertanyaan. Tau nggak, adikku menangis mendengar ceritaku. Lalu meninggalkanku sendiri. Ya….emang yang tau tentang ini Cuma adikku. Diam-Diam aku menangis dan
 menyesalinya. Seharusnya aku mengatakan apa adanya. Bukan begini! Entah kenapa aku berharap Rio menghubungiku. Dan benar juga, belum berhenti berfikir tentang dia, Rio sudah SMS aku.
Minggu, 30 Januari 2005 (19:13)
SYair indah memecah keheningan malam, mengalun merdu dari bibir perempuan. Sejenak menusuk jiwa yang paling dalam, mencekik hati yang tak berteman. Lirik tak bernada, tak berbait.
Minggu, 30 Januari 2005 (19:14)
Diiringi tarian kekecewaan dan asap-asap kepulan, bunga tak lagi indah, di tiap surge tak lagi manis di tiap tetes madunya, bunga kini adalah bunga hanya sebagai penghias dunia.
Minggu, 30 Januari 2005 (19:15)
Tetap nikmati lagu kaki langit yang bila di dendangkan mataharipun akan meredup, kini hidup bagai cerita yang tak berbait, sungguh melelahkan perasaan.
Minggu, 30 Januari 2005 (19:16)
Dan kau tersenyum mendendangkan “SENANDUNG MALAM PENGHANTAR KEMATIAN” ( Semoga kau sukses n terima kasih jika kau bisa….)
Sengaja aku tak membalasnya.Aku ingin Rio membenciku, sebenci-bencinya.
Setelah kejadian itu, semua seolah menyalahkanku. Miko, Arum dan semua teman-teman Rio yang mengenalku. Seminggu, dua minggu dan sebulan…. Aku tak dapat melupakan Rio. Lalu ku putuskan SMS, namun tak berbalas. Berkali ku SMS juga tak berbalas. Aku telpon tak diangkat. Benarkah Rio terlalu membenciku ?? Sampai-Sampai tak pernah bisa memaafkanku!?
Waktu terus berlau, aku tak pernah jera untuk mencoba menelponnya. Tapia pa yang terjadi ? Mula-mula nomornya tidak diaktifkan. Aku masih ada harapan. Tapi kali ini nomor itu sudah tidak aktif lagi. Aku menangis dan terus menangisinya. Aku merasa menyesal dan sangat menyesal.
Dan senja ini, saat ku tuliskan cerita ini adalah satu tahun perpisahanku dengan Rio. Semoga kamu tau, aku tak pernah berniat melukai perasaanmu, apalagi hatimu, jujur sepeninggalnya aku mencoba membuka hati tapi teramat sulit untuk melupakannya. 
Rio percayalah suatu saat aku akan mencarimu dan mengembalikan senja terindah yang pernah terkoyak…..
…… Waktu itu aku tulis cerita ini tepat setahun setelah tragedy itu…..
Makasih udah mo baca cerpenku hehe…ya Cuma sekedar cerita…semoga ada hikmahnya..

Lagi action hehe..
Di Anyer

7 komentar: